Pages

Subscribe:

Kamis, 03 November 2011

PENYAKIT JANTUNG KORONER

Topik ini yang mengantarkan saya menjadi salah satu mahasiswa yang berkesempatan untuk siaran konsultasi gizi di RRI Bogor Pro I (3 dan 13 Oktober 2011)
PENDAHULUAN
Latar Belakang
Kesehatan merupakan hal dasar yang menunjang proses kehidupan manusia. Berbagai hal dapat mempengaruhi kesehatan, diantaranya adalah pola makan dan gaya hidup modern yang serba cepat. Menurut Utami (2009), sejumlah perilaku dan gaya hidup kurang sehat yang sering dijumpai antara lain mengonsumsi makanan siap saji dengan kadar lemak tinggi, kebiasaan merokok, minuman berakohol, kerja berlebihan, kurang berolahraga, dan stress. Pergeseran gaya hidup ini mempercepat munculnya berbagai penyakit degeneratif, salah satunya adalah penyakit jantung.
Jantung merupakan organ vital yang berperan penting mengalirkan darah keseluruh tubuh dan membawa zat gizi bagi sel-sel organ di seluruh tubuh.. Terdapat berbagai macam penyakit jantung, tetapi penyakit jantung yang umumnya diderita adalah penyakit jantung koroner.  Penyakit jantung koroner disebut sebagai the silent killer deseases. Hal ini dikarenakan gejala serangan jantung juga sering tidak memberikan keluhan-keluhan sebelumnya. Berdasarkan sebuah penelitian, pada saat serangan jantung hanya 49% yang menimbulkan keluhan nyeri dada, 24% tanpa keluhan sebelumnya langsung menyebabkan kematian mendadak (sudden death), dan sisanya terkadang mirip dengan gejala penyakit maag atau lambung.
Organisasi Kesehatan Sedunia (WHO) dan Organisasi Federasi Jantung Sedunia (World Heart Federation) memprediksi penyakit jantung akan menjadi penyebab utama kematian di negara-negara Asia pada tahun 2010. Saat ini, sedikitnya 78% kematian global akibat penyakit jantung terjadi pada kalangan masyarakat miskin dan menengah. Tingginya angka kematian di Indonesia akibat penyakit jantung koroner (PJK) mencapai 26%. Di tahun 2020 diperkirakan penyakit kardiovaskuler menjadi penyebab kematian 25 orang setiap tahunnya (Anonim 2008). Oleh karena itu, penyakit jantung koroner menjadi penyebab kematian dan kecacatan nomer satu di dunia. Oleh karena itu, perlu diberikan informasi mengenai penyakit jantung koroner dan faktor resikonya kepada masyarakat luas melalui konsultasi gizi sebagai salah satu upaya untuk meningkatkan status kesehatan masyarakat.


TINJAUAN PUSTAKA
Definisi Penyakit Jantung Koroner
Sebagaimana anggota tubuh yang lain, jantung juga memerlukan oksigen dan zat makanan sebagai sumber energi agar dapat memompa darah ke seluruh tubuh. Bagian yang berperan mengantarkan zat makanan dan oksigen ini adalah pembuluh darah koroner. Pembuluh koroner merupakan cabang dari pembuluh besar aorta jantung. Jantung memiliki empat cabang besar pembuluh koroner, Pipa pembuluh darah koroner melekat pada dinding jantung. Penyakit jantung koroner terjadi jika pembuluh darah koroner tersumbat. Manifestasi penyakit jantung koroner disebabkan ketidakseimbangan antara kebutuhan oksigen sel otot jantung dengan masukannya. Penyaluran oksigen yang kurang dari arteri koroner akan menyebabkan kerusakan sel otot jantung (Nadesul 2009).
Etiologi
Menurut Utami (2009), penyakit jantung koroner terutama disebabkan oleh proses pembentukan plak aterosklerosis (sumbatan di pembuluh darah koroner). Aterosklerosis merupakan suatu kondisi dimana bahan lemak terkumpul dibawah lapisan sebelah dalam dari dinding arteri. Disamping itu terdapat beberapa faktor yang menyebabkan seseorang terkena penyakit jantung koroner, yaitu:
1.    Faktor yang tidak dapat diubah
a.    Jenis kelamin
Pria lebih berpotensi terkena serangan jantung dibanding dengan wanita.
b.    Usia.
jika usia sudah di atas 40 tahun, semua faktor resiko akan semakin meningkat.
c.    Keturunan
Keturunan atau genetik tidak bisa diabaikan sebagai faktor resiko terkena penyakit jantung koroner. Dengan mengetahui riwayat keluarga yang lebih berisiko terkena jantung koroner akan menolong penderita lebih waspada mengantisipasi terjadinya serangan.
2.    Faktor yang dapat diubah
a.    Kelebihan berat badan (obesitas)
Kegemukan menyebabkan beban jantung semakin berat. Selain itu, timbunan lemak dalam otot jantung dapat menggangu efisiensi gerakan jantung
b.    Hipertensi
Hipertensi dapat merusak bagian dalam pembuluh arteri, sehingga kemungkinan dapat menyebabkan pembekuan darah.
c.    Diabetes mellitus
Diabetes tipe 2 umumnya dihubungkan dengan obesitas dan dapat dicegah dengan menjaga berat badan ideal melalui olahraga dan gizi yang seimbang. Adanya penyakit diabetes juga memicu risiko terjadinya penyempitan pembuluh darah dan arteriosklerosis.
d.    Kolesterol tinggi
Resiko terjadinya arteriosklerosis dan serangan jantung jufa dipengaruhi oleh kadar kolesterol LDL. Jika kolesterol yang tersedia lebih banyak dari yang dibutuhkan, LDL akan beredar dalam aliran darah dan akan berakumulasi di dinging arteri, akibatnya, akan tebentuk semacam plak yang menyebabkan dinding arteri menjadi kaku dan rongga pembuluh darah menyempit.
Patofisiologi
Rangkaian penyebab terjadinya penyakit jantung bersifat multifaktorial. Arteriosklerosis diyakini sebagai rangkaian pertama penyebab penyakit jantung. Aterosklerosis bermula ketika sel darah putih yang disebut monosit, pindah dari aliran darah ke dalam dinding arteri dan diubah menjadi sel-sel yang mengumpulkan bahan-bahan lemak. Monosit yang terisi lemak ini akan terkumpul dan menyebabkan bercak penebalan di lapisan dalam arteri. Setiap daerah penebalan (plak aterosklerotik atau ateroma) akan terisi  dengan sejumlah bahan lemak, terutama kolesterol, sel-sel otot polos dan sel-sel jaringan ikat. Ateroma bisa tersebar di dalam arteri sedang dan arteri besar, tetapi biasanya mereka terbentuk di daerah percabangan. (Anonim 2010). 
Arteri yang terkena aterosklerosis akan kehilangan kelenturannya dan karena ateroma terus tumbuh, maka arteri akan menyempit. Lama-lama ateroma mengumpulkan endapan kalsium, sehingga menjadi rapuh dan mudah pecah. Darah bisa masuk ke dalam ateroma yang pecah, sehingga ateroma menjadi lebih besar dan lebih mempersempit arteri. Ateroma yang pecah juga bisa menumpahkan kandungan lemaknya dan memicu pembentukan bekuan darah (trombus). Selanjutnya bekuan ini akan mempersempit bahkan menyumbat arteri, atau bekuan akan terlepas dan mengalir bersama aliran darah dan menyebabkan sumbatan di tempat lain (emboli) (Anonim 2010). 
Tahapan berikutnya dari rangkaian serangan jantung adalah angina pektoris. Penyebab angina pektoris adalah suplai oksigen yang tidak adekuat ke sel-sel miokardium dibandingkan kebutuhan. Jika beban kerja suatu jaringan meningkat maka kebutuhan oksigen juga meningkat. Pada jantung yang sehat, arteria koroner berdilatasi dan mengalirkan lebih banyak darah dan oksigen ke otot jantung. Namun jika arteria koroner mengalami kekakuan atau menyempit dan tidak dapat berdilatasi sebagai respon peningkatan kebutuhan akan oksigen, maka terjadi iskemi miokardium. Sel-sel miokardium mulai menggunakan glikolisis anaerob untuk memenuhi kebutuhan energi mereka. Cara ini tidak efisien dan menyebabkan terbentuknya asam laktat. Asam laktat menurunkan pH miokardium dan menimbulkan nyeri yang berkaitan dengan angina pektoris. Apabila kebutuhan energi sel-sel jantung berkurang, maka suplai oksigen menjadi adekuat dan sel-sel otot kembali ke proses fosforilasi oksidatif untuk membentuk energi. Proses ini tidak menghasilkan asam laktat. Dengan hilangnya penimbunan asam laktat, maka nyeri angina pektoris mereda. Dengan demikian, angina pektoris merupakan suatu keadaan yang berlangsung singkat (Kusuma & Hanafi, 2003)
Infark miokardium merupakan tahap terakhir dari serangan jantung. Infark miokardium merupakan nekrosis miokard akibat gangguan aliran darah ke otot jantung. Infark miokard biasanya disebabkan oleh trombus arteri koroner; prosesnya mula-mula berawal dari rupturnya plak yang kemudian diikuti oleh pembentukan trombus oleh trombosit. Lokasi dan luasnya infark miokard tergantung pada jenis arteri yang oklusi dan aliran darah kolateral (Kusuma & Hanafi, 2003).
Tanda dan Gejala
Penyakit jantung aterosklerotik
Sesak napas yang makin lama makin bertambah, sekalipun melakukan aktivitas ringan; nyeri dan keram di ekstremitas bawah, terjadi selama atau setelah olah raga. Laboratorium : kadar kolesterol di atas 180 mg/dl pada orang yang berusia 30 tahun atau kurang, atau di atas 200 mg/dl untuk mereka yang berusia lebih dari 30 tahun, dianggap beresiko khusus mengidap penyakit arteri koroner (Jonto 2001).
Angina pektoris
Nyeri dada di daerah sternum, substernal atau dada sebelah kiri dan kadang-kadang menjalar ke lengan kiri, punggung, rahang, leher, atau ke lengan kanan; dapat timbul di tempat lain seperti di daerah epigastrium, leher, rahang, gigi, bahu. Nyeri dada biasanya seperti tertekan benda berat, atau seperti di peras atau terasa panas, kadang-kadang hanya mengeluh perasaan tidak enak di dada. Nyeri timbul pada saat melakukan aktivitas dan mereda bila aktivitas dihentikan. Lamanya nyeri dada biasanya berlangsung 1-5 menit. Gambaran EKG saat istirahat dan bukan pada saat serangan angina sering masih normal. Foto rontgen dada sering menunjukkan bentuk jantung yang normal. Perlu dilakukan exercise test, positif bila EKG menunjukkan depresi segmen ST dan gelombang T dapat terbalik (Jonto 2001).
Infark miokardium
Nyeri dada kiri seperti ditusuk-tusuk atau diiris-iris menjalar ke lengan kiri, lebih intensif dan lama serta tidak sepenuhnya hilang dengan istirahat ataupun pemberian nitrogliserin. Pada EKG terdapat elevasi segmen ST diikuti dengan perubahan sampai inversi gelombang T; kemudian muncul peningkatan gelombang Q minimal di 2 sadapan. Peningkatan kadar enzim atau isoenzim merupakan indikator spesifik infark miokard akut yaitu kreatinin fosfoskinase (CPK/CK), SGOT, LDH, alfa hidroksi butirat dehidrogenase, dan isoenzim CK-MB. Yang paling awal meningkat adalah CPK tetapi paling cepat turun (Jonto 2001).
 Pengobatan
Penatalaksanaan jantung koroner dibagi menjadi dua jenis yaitu umum dan mengatasi iskemia. Penatalaksanaan umum meliputi edukasi pada pasien seperti penjelasan mengenai penyakit, aktivitas yang harus dihindari, pengendalian faktor risiko, pencegahan sekunder (contoh: memberi penghambat aterosklerosis), pemberian oksigen bila perlu. Penatalaksanaan iskemia dengan memberi nitrat, berbagai jenis penyekat beta, antagonis kalsium, trombolitik, dan operasi (Rakhman 2003).
Jenis operasi yang biasa dilakukan sebagai penanganan penyakit jantung koroner adalah operasi balonisasi (coronary angioplasty) dan operasi bypass jantung (coronary artery bypass surgery). Pada dasarnya coronary angioplasty adalah teknik dimana suatu balon yang tipis dan panjang dimasukkan kedalam pembuluh darah yang menyempit, kemudian balon itu ditiup menggelembung dengan tekanan tinggi sehingga melebarkan pembuluh darah. Kekurangan teknik angioplasty adalah adanya kemungkinan terjadinya penyempitan arteri kembali setelah kurun waktu tertentu (Anonim 2008).
Teknologi terus berkembang, hingga ditemukan stent. Stent merupakan suatu jaringan kawat yang sangat halus. Stent dimasukan ke dalam pembuluh dan digelembungkan bersama dengan balon. Kemudian balon dikempiskan dan dikeluarkan. Sehingga stent tertinggal dan akan melebarkan penyempitan pembuluh. Teknik ini dapat membantu mencegah penyempitan pembuluh darah (Anonim 2008).
Coronary artery bypass surgery adalah teknik yang menggunakan pembuluh darah dari bagian tubuh yang lain untuk memintas (melakukan bypass) arteri yang menghalangi pemasokan darah ke jantung. Vena kaki atau arteri mamari (payudara) internal bisa digunakan untuk operasi bypass. Operasi ini membantu memulihkan aliran darah yang normal ke otot jantung yang tersumbat (Anonim 2011).
Pencegahan
Menurut Utami (2009), upaya pencegahan untuk menghindari penyakit jantung koroner dimulai dengan memperbaiki gaya hidup dan mengendalikan faktor risiko sehingga mengurangi peluang terkena penyakit tersebut. Penyebab utama dari penyakit jantung koroner adalah arteriosklerosis. Pencegahan terhadap terjadinya arteriosklerosis dengan melakukan beberapa cara, yaitu:
1.    Mengendalikan tekanan darah dan kadar gula darah normal.
2.    Berhenti merokok dan menghisap asap rokok
3.    Olahraga secara teratur.
4.    Menjaga berat badan ideal
5.    Menurunkan kadar kolesterol LDL dan meningkatkan kadar kolesterol HDL.
6.    Mengurangi konsumsi makanan yang berlemak dan berkalori tinggi,
7.    Mengkonsumsi makanan atau minuman yang mengandung antioksidan
8.    Mengkonsumsi makanan yang mengandung asam folat dan vitamin B untuk menurunkan kadar homosistein dalam darah.
9.    Mengurangi stres
10.  Mengurangi minuman beralkohol
Pengaturan Diet
Menurut Almatsier (2010), tujuan dari diet penyakit jantung adalah memberikan makanan secukupnya tanpa memberatkan kerja jantung, menurunkan berat badan bila terlalu gemuk dan mencegah atau menghilangkan penimbunan garam atau air. Berikut daftar bahan makanan yang dianjurkan dan dibatasi dalam penyusunan diet penyakit jantung.
Tabel 1 Daftar bahan makanan yang dianjurkan dan dibatasi bagi penderita jantung Koroner
Bahan makanan
Dianjurkan
Dibatasi
Sumber karbohidrat
Beras, mie, kentang, tepung beras, tepung terigu, gula, madu
Makanan yang mengandung gas/ alkohol: ubi, singkong, tape
Sumber protein hewani
Daging sapi, ayam dengan lemak rendah, ikan, telur, susu rendah lemak
Daging sapi dan ayam yang berlemak, sosis, ham, hati, babat, otak, kerang-kerangan
Sumber protein nabati
kacang kedelai, tahu, tempe
Kacang tanah
Sayuran
Tidak mengandung gas: bayam, kangkung, buncis, kacang panjang, wortel, tomat
Mengandung gas: kol, sawi, lobak
Buah-buahan
Semua buah segar
Buah mengandung alkohol: durian dan nangka
Lemak
Minyak jagung, minyak kedelai, margarine, mentega dalam jumlah sedikit
Minyak kelapa, minyak kelapa sawit, santan kental
Minuman
The encer, coklat, sirup
The/ kopi kental, soda
Bumbu
Semua bumbu dalam jumlah terbatas
Cabe, merica, dan bumbu lain yang beraroma tajam

Memperbanyak mengkonsumsi makanan sehat akan membantu meredam resiko penyakit jantung. Menurut Utami (2009), makanan berikut dianjurkan untuk dikonsumsi penderita jantung koroner.
1.    Serat larut
Berfungsi menurunkan kadar kolesterol karena dapat mengangkut asam empedu. Selain itu serat larut juga dapat mengatur kadar gula darah dan menurunkan tekanan darah. Contoh makanan yang mengandung serat larut adalah havermut, roti gandum, buah-buahan yang dimakan bersama kulitnya, polong-polongan dan kacang-kacangan.
2.    Omega-3
Omega 3 mampu menurunkan kadar trigliserida, sehingga dapat memperkecil pertumbuhan aterosklerosis. Selain itu omega-3 dapat menurunkan resiko aritmia (detak jantung tidak normal) yang dapat menyebabkan serangan jantung mendadak. Jenis ikan terbaik adalah ikan laut dalam, seperti salmon dan tuna.
3.    Lemak tak jenuh
Lemak tak jenuh dapat menurukan risiko penyakit jantung dengan cara menyusutkan kadar kolesterol darah, Lemak tak jenuh tunggal dapat diperoleh dari minyak zaitun dan wijen. Lemak tak jenuh ganga diperoleh dari minyak bungan matahari dan jagung.
4.    Niacin
Niasin (vitamin B3) banyak terdapat pada kacang hijau dan kedelai. Niacin dapat menurunkan produksi LDL dan merangsang pembentukan prostaglandin. Prostaglandin merupakan suatu hormon yang membantu mencegah pengumpulan keeping darah dalam proses arteriosklerosis.
5.    Vitamin C
Berperan penting memperbesar laju pembuangan kolesterol keluar tubuh sebagai asam empedu, meningkatkan HDL dan mensintesis kolagen. Kekurangan vitamin ini dapat menyebabkan kerusakan sel dinding pembuluh darah arteri serta melemahnya struktur pembuluh darah dan otot jantung. Vitamin C dosis tinggi banyak ditemukan pada jeruk, lemon, stroberi, papaya, dan sayuran hijau.


DAFTAR PUSTAKA
Almatsier S.2010. Penuntun Diet. Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama
______.2008. Penyakit Jantung Koroner. http://www.totalkesehatananda.com/ html (24 September 2011)
______.2010. Penyebab Aterosklerosis (Atherosclerosis). http://www.spesialis. info/?penyebab-aterosklerosis-(atherosclerosis),703 (17 September 2011)

______.2011.  Pembedahan Coronary Arteri Bypass Grafting (CABG). http://www.singhealth.com.sg/PatientCare/Overseas-Referral/bh /Procedures /Pages/CardiothoracicSurgeryPackages.aspx. (24 September 2011)

Nadesul H.2009. Resep Mudah Tetap Sehat. Jakarta: PT Kompas Media Nusantara
 Jonto S. 2001. Diagnosis Penyakit Jantung. Jakarta : Penerbit Widya Medika.
Kusmana, Hanafi. 2003. Patofisiologi Penyakit Jantung Koroner. Jakarta : Balai Penerbit FKUI.
Rakhman O. 2003. Anamnesis dan Pemeriksaan Fisik pada Penyakit Jantung. Jakarta : Balai Penerbit FKUI.
Utami P.2009. Solusi Sehat Mengatasi Jantung Koroner. Jakarta: PT AgroMedia Pustaka

2 komentar:

Anonim mengatakan...

Terima kasih atas informasinya obat jantung koroner

Unknown mengatakan...

terimakasih banyak, sangat membantu sekali..

http://acemaxsshop.com/obat-herbal-jantung-koroner/

Posting Komentar