Pages

Subscribe:

Labels

Tampilkan postingan dengan label gizi dan kesehatan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label gizi dan kesehatan. Tampilkan semua postingan

Senin, 14 November 2011

Cara Cegah Stres Saat Sedang Menurunkan Berat Badan


Stres yang sangat tinggi seringkali membuat orang makan tidak terkontrol dalam upaya memenuhi kebutuhan emosional. Hal tersebut kadang-kadang disebut sebagai stres makan atau makan secara emosional. Jika stres datang dan keinginan makan besar muncul sementara Anda sedang melakukan diet, lakukan ini.

Orang stres cenderung untuk makan makanan yang berkalori tinggi selama merasakan stres. Hal tersebut bahkan tetap dilakukan meskipun sedang tidak lapar sama sekali. Untuk mencegah kenaikan berat badan selama stres dan mengurangi risiko obesitas, maka harus dapat mengontrol stres yang sedang dialami.


Ketika seseorang sedang merasa tidak terlalu stres dan lebih dapat memegang kendali hidup, maka mungkin lebih mudah untuk melakukan pola makan sehat dan menjaga kebiasaan olahraga secara rutin.

Seperti dikutip dari Mayolinic, Senin (12/11/2011), teknik manajemen stres untuk mengatasi stres yang menyebabkan kenaikan berat badan antara lain:

1. Kenali tanda-tanda dari stres
Tanda-tanda dari stres dapat seperti kecemasan, mudah tersinggung, dan ketegangan otot.

2. Sebelum makan, tanyakan pada diri sendiri mengapa Anda makan
Pertanyaan tersebut berguna untuk mengetahui apakah benar-benar merasa lapar atau karena merasa stres atau cemas.

3. Jika tergoda untuk makan saat tidak lapar
Maka berusaha menemukan gangguan dan menyingkirkannya, dengan menghindari makanan tersebut ketika tidak pada jam yang merupakan jadwal makan.

4. Jangan melewatkan jadwal makan
Jangan melewatkan jadwal makan terutama sarapan pagi, karena hal tersebut justru akan membuat seseorang tidak dapat mengontrol porsi makan saat makan siang atau makan malam.

5. Menyingkirkan makanan yang dapat mengganggu usaha mengontrol makan
Mengidentifikasi untuk kemudian menyingkirkan makanan-makanan yang seringkali menggoda untuk di makan, dari rumah atau kantor.

6. Simpanlah catatan perilaku dan kebiasaan makan
Hal tersebut dilakukan agar dapat mencari pola dan hubungan dan kemudian mencari cara untuk mengatasinya.

7. Pelajari keterampilan pemecahan masalah
Hal tersebut dilakukan agar dapat mengantisipasi tantangan dan mengatasi memburuknya masalah yang sedang dihadapi.

8. Mempraktikkan keterampilan relaksasi
Hal tersebut dapat membuat seseorang lebih rileks dan dapat berpikir dengan lebih jernih. Relaksasi dapat dilakukan dengan yoga, pijat, atau meditasi.

9. Latihan fisik atau olahraga secara teratur
Latihan fisik atau olahraga secara teratur dapat membuat seseorang lebih dapat rileks dan terhibur.

10. Dapatkan tidur yang cukup
Tidur dengan kualitas dan kuantitas yang cukup dapat memiliki berbagai manfaat, termasuk bermanfaat memberikan pikiran yang jernih saat seseorang sedang menyelesaikan masalah.

11. Dapatkan dukungan dari teman dan keluarga
Dukungan dari teman dan keluarga tentunya dapat menguatkan seseorang yang sedang menghadapi masalah yang cukup berat, sehingga dapat mengurangi stres akibat masalah tersebut.

Stres yang berhasil dikelola dengan baik, tentunya tidak akan menyebabkan peningkatan berat badan karena tidak dapat mengontrol pola makan sehat. Jika telah mencoba teknik manajemen stres tersebut, tetapi tampaknya tidak membantu, pertimbangkan untuk mencari bantuan profesional melalui psikoterapi atau konseling.

sumber: 


Sabtu, 12 November 2011

Mengenal Diabetes Melitus

Topik ini menjadi bahan siaran saya di RRI Bogor Pro I, Rabu 9 November 2011 pkul 19.40 ^^



Apa itu Diabetes Mellitus?
Diabetes mellitus merupakan suatu kumpulan gejala yang timbul pada seseorang yang disebabkan oleh karena adanya peningkatan kadar glukosa darah akibat kekurangan insulin baik absolut maupun relatif (Johnson, 1998). Menurut American Diabetes Association (ADA) DM merupakan penyakit metabolik dengan karakteristik hiperglikemia yang terjadi karena kelainan sekresi insulin, kerja insulin atau kedua-duanya (Soegondo 2004).
Badan kesehatan dunia (WHO), melalui laporan kedua Expert Committee on Diabetes Mellitus mengelompokkan diabetes menjadi dua kelompok utama, yaitu insulin dependent diabetes mellitus (IDDM) atau yang dikenal sebagia diabetes mellitus tipe 1 dan non-insulin dependent diabetes mellitus (NIDDM) atau diabetes mellitus tipe 2. Pada IDDN, pancreas tidak menghasilkan insulin dalam jumlah yang cukup sedangkan NIDDM disebabkan insulin yang tidak bekerja dengna baik (WHO 1980). 


Jenis-jenis Diabetes Melitus?
Terdapat 3 tipe diabetes, yaitu DM tipe 1, DM tipe 2, dan DM gestasional
Diabetes Mellitus tipe 1 disebabkan terutama oleh adanya kerusakan sel beta pancreas pada pancreas yang mempengaruhi kekebalan, dan ditandai dengan difisiensi insulin dan ketidakmampuan dalam sekresi insulin pengganti, yang menyebabkan defisiensi insulin yang relatif (Heimburger dan Ard 2006). 
Gangguan produksi insulin pada DM Tipe 1 umumnya terjadi karena kerusakan sel-sel β pulau Langerhans yang disebabkan oleh reaksi otoimun. Namun ada pula yang disebabkan bermacam-macam virus, antara lain virus Cocksakie, Rubella, CMVirus, Herpes, dan lain sebagainya. Destruksi otoimun dari sel-sel β pulau Langerhans kelenjar pancreas langsung mengakibatkan defisiensi sekresi insulin. Defisiensi insulin inilah yang menyebabkan gangguan metabolisme yang menyertai DM Tipe 1 (Depkes 2005).
Selain defisiensi insulin, fungsi sel-sel α kelenjar pankreas pada penderita DM Tipe 1 juga menjadi tidak normal. Pada penderita DM Tipe 1 ditemukan sekresi glukagon yang berlebihan oleh sel-sel α pulau Langerhans. Secara normal, hiperglikemia akan menurunkan sekresi glukagon, namun pada penderita DM. Tipe 1 hal ini tidak terjadi, sekresi glukagon tetap tinggi walaupun dalam keadaan hiperglikemia. Hal ini memperparah kondisi hiperglikemia. Salah satu manifestasi dari keadaan ini adalah cepatnya penderita DM Tipe 1 mengalami ketoasidosis diabetik apabila tidak mendapat terapi insulin (Depkes 2005).
 Apabila diberikan terapi somatostatin untuk menekan sekresi glukagon, maka akan terjadi penekanan terhadap kenaikan kadar gula dan badan keton. Salah satu masalah jangka panjang pada penderita DM Tipe 1 adalah rusaknya kemampuan tubuh untuk mensekresi glukagon sebagai respon terhadap hipoglikemia. Hal ini dapat menyebabkan timbulnya hipoglikemia yang dapat berakibat fatal pada penderita DM Tipe 1 yang sedang mendapat terapi insulin (Depkes 2005).

Pada DM tipe 2, jumlah insulin normal tetapi jumlah reseptor insulin yang terdapat pada permukaan sel cenderung kurang. Hal ini menyebabkan glukosa yang masuk sel akan sedikit, sehingga sel akan kekurangan glukosa dan glukosa dalam pembuluh darah meningkat. Faktor-faktor penyebab resistensi insulin ini adalah obesitas sentral (bentuk apel), diet tinggi lemak dan rendah karbohidrat, kurang gerak badan dan factor keturunan (Tupitu  2006).
Berbeda dengan DM Tipe 1, pada penderita DM Tipe 2, terutama yang berada pada tahap awal, umumnya dapat dideteksi jumlah insulin yang cukup di dalam darahnya, disamping kadar glukosa yang juga tinggi. Jadi, awal patofisiologis DM Tipe 2 bukan disebabkan oleh kurangnya sekresi insulin, tetapi karena sel-sel sasaran insulin gagal atau tak mampu merespon insulin secara normal. Keadaan ini lazim disebut sebagai “Resistensi Insulin” (Depkes 2005).
Disamping resistensi insulin, pada penderita DM Tipe 2 dapat juga timbul gangguan sekresi insulin dan produksi glukosa hepatik yang berlebihan. Namun demikian, tidak terjadi pengrusakan sel-sel β Langerhans secara otoimun sebagaimana yang terjadi pada DM Tipe 1. Dengan demikian defisiensi fungsi insulin pada penderita DM Tipe 2 hanya bersifat relatif, tidak absolut (Depkes 2005).
Sel-sel β kelenjar pankreas mensekresi insulin dalam dua fase. Fase pertama sekresi insulin terjadi segera setelah stimulus atau rangsangan glukosa yang ditandai dengan meningkatnya kadar glukosa darah, sedangkan sekresi fase kedua terjadi sekitar 20 menit sesudahnya. Pada awal perkembangan DM Tipe 2, sel-sel β menunjukkan gangguan pada sekresi insulin fase pertama, artinya sekresi insulin gagal mengkompensasi resistensi insulin. Apabila tidak ditangani dengan baik, pada perkembangan penyakit selanjutnya penderita DM Tipe 2 akan mengalami kerusakan sel-sel β pankreas yang terjadi secara progresif, yang seringkali akan mengakibatkan defisiensi insulin, sehingga akhirnya penderita memerlukan insulin eksogen (Depkes 2005).

Gejala awal diabetes melitus seperti apa
 

Keluhan klasik: poliuria (banyak kencing), polidipsia (banyak minum), polifagia (banyak minum) 

Bila konsentrasi gula darah menongkat melebihi kemampuan ginjal, maka penyerapan gula di ginjal menjadi tidak sempurna. sehingga sebagian dari glukosa akan tetap berada di urin. itulah masyarakat sering mengenal penyakit DM dengan istilah penyakit kencing manis. kondisi ini akan menyebabkan peningkatan tekanan osmotik pada urin dan menghalangi proses reabsorbsi air oleh ginjal. sehingga pada akhirnya produksi air seni menjadi tinggi. 
tubuh memiliki sistem homeostatis (mekaniske menjaga agar kondisi tetap seimbang), dengan tingginya volume cairan yang dikeluarkan, tubuh akan segera menggantikan dengan carian yang diserap dari sel tubuh lain. Hal ini yang menyebabkan dehidrani dan peningkatan kehausan (polidipsi). 
Pada diabetisi (penderita DM), glukosa tidak dapat masuk ke dalam sel, sehingga sel cenderung kekurangan energo yang mengakibatkan diabetisi sering merasa lapar (polifagia). Kondisi sel yang terus menerus kekurangan energi ini akan berkibat pada penurunan berat badan secara signifikan.

Lalu, siapa sajakah yang beresiko mengidap DM?

Setiap orang beresiko terkena diabetes, baik laki-laki maupun perempuan. Secara garis besar faktor resiko terbagi menjadi 2 kategori. Kategori 1 adalah resiko yang dapat dikendalikan seperti berat badan dan gaya hidup.
Kategori 2 adalah resiko yang tidak dapat dikendalikan seperti usia dan keturunan. Usia diatas 45 tahun memiliki resiko lebih besar. Sedangkan jika dalam keluarga ada yang memiliki pengidap DM maka kemungkinan besar keturunannya juga mengidap penyakit yang sama.

Tindakan apa yang dapat dilakukan untuk mencegah DM?

Mengkonsumsi makanan yang dikonsumsi sehari-hari. Konsumsi makanan sehat dan seimbang sangat penting dilakukan.
Olahraga secara teratur
Latihan jasmani dapat menjaga berat badan dan memperbaiki sensifitas insulin sehingga kendali gula dalam darah dapat optimal. Melakukan pemeriksaan darah secara teratur. Pemeriksaan darah secara rutin untuk mengetahui kondisi gula dalam darah. Tidak perlu keluhan datang. Umumnya orang memeriksakan diri saat diabetes sudah diidap. Jaga berat badan ideal. Pemilik tubuh gemuk memiliki resiko 10-30 kali lebih besar terkena diabetes dibanding pemilik tubuh ideal

Bila sudah terkena DM, bagaimana mengatur pola makannya?


Sebenarnya tidak ada makanan khusus yang dihindari. Semua makanan diperlukan oleh tubuh manusia. Hanya saja, jumlahnya harus sesuai dengan kondisi tubuh. Menu untuk diabetisi disajikan dalam 3 porsi makan utama, dan 2-3 kali snack/ selingan. Perlu diperhatikan pada bahan makanan sumber karbohidrat. Dipilih bahan pangan sumber karbohidrat kompleks dengan indeks glikemik rendah. Seperti nasi, kentang, jagung, roti gandum. Makanan dengan indeks glikemik rendah memerlukan waktu yang cukup lama untuk diubah menjadi glukosa darah (slow release). Dengan demikian gula darah diabetisi tidak langsung melonjak sesaat setelah makanSedangkan untuk gula sederhana (IG tinggi) seperti gula pasir, gula aren, madu, sirup, kue manis  sebaiknya dikonsumsi dalam jumlah terbatas. Sumber protein rendah lemak: ikan, ayam tanpa kulit, kacang-kacangan. Konsumsi lemak dalam jumlah terbatas. Makanan sebaiknya dioleh dengan cara dipanggang, dikukus, disetup, direbus dan dibakar. 


Daftar Pustaka

[ADA] American Diabetes Association.1982. Diabetes in the Family. London: Prentice Hall International Inc.
[Depkes] Departemen Kesehatan RI.2005. Pharmaceutical Care untuk Penyakit Diabetes Mellitus. Jakarta: Departemen Kesehatan RI
[WHO] World Health Organization. 1980. Expert Committee on Diabetes Mellitus: second report. WHO Technical Report Series, 646:1-80
Johnson M.1998. Diabetes Terapi dan Pencegahannya. Jawa Barat: Indonesia Publishing House.






Senin, 07 November 2011

Aduhhh.... anak saya susah makan ni :(


Para orangtua yang memiliki anak balita kerap dibuat pusing menghadapi anak yang susah makan. Salah satu faktor yang bisa menyebabkan anak susah makan, salah satunya adalah trauma.

Trauma seperti apa yang dimaksud? 
Ada orang tua yang ingin asupan gizi anaknya baik, kemudian dikasih makan campuran ati, ikan, otak sapi, segala macam dicampur, karena yakin ini makanan paling sehat buat anak. Dan lupa untuk mencicipi, enak apa nggak ya rasanya? Ketika dirasakan anak makanan itu tidak enak dia (si anak) menjadi trauma dengan makanan. 
Jadi, sebaiknya sebelum memberikan makanan pada enak dicicipi dulu, enak atau tidak  (jangan main kasih saja)
Trauma lainnya, bisa juga disebabkan pada cara memberikan makan. ibu ataupun pengasuh anak terkadang tidak cukup memiliki kesabaran dalam memberikan makan pada anaknya. Akibatnya, seringkali anak dipaksa untuk membuka mulutnya dan menerima makanan yang disuapkan kepadanya.
"Mungkin saja, tanpa sepengetahuan ibu, pengasuh anak yang memberikan makan sedikit memaksa. Sehingga, ketika saat makan tiba si anak justru trauma karena pemaksaan itu. 

Lalu bagaimana sebaiknya...????

BIASAKAN JAM MAKAN
Kadang orang tua menyerah dengan sikap anak yang susah makan. Ketika dalam keadaan seperti ini orang tua cenderung memberikan apa pun yang diinginkan anak, misalnya permen, cemilan, coklat, dll. Sehingga pada akhirnya makanan yang telah dimasak oleh sang ibu (tentunya yang lebih bergizi) tidak masuk ke mulut anak. Lalu bagaimana sebaiknya? 
hal yang mudah untuk dilakukan adalah membiasakan jam makan kepada anak. Misalnya jika jam setengah 7 sudah waktunya sarapan, anak dikondisikan untuk sarapan.
cemilan boleh saja diberikan, antara waktu sarapan dan makan siang. hanya saja orang tua harus mempertimbangkan jumlahnya, jangan sampai berlebih sehingga ketika jam makan siang, anak tidak mau menyantap menu makan siangnya.

untuk orang tua SERING AJAK ANAK MAKAN BARENG YAA....
meskipun sepertinya sepele, makan bersama anggota keluarga merupakan hal paling menyenangkan bagi anak. Anda bisa melakukan saat sarapan ataupun makan malam. duduk bersama dengan anak sambil menikmati menu yang anda buat sendiri, tentunya akan meningkatkan keakraban antar anggota keluarga. Anda dan anak dapat saling bertukar pikiran mengenai makanan yang disukai dan tidak, dan andapun dapat memberikan pengertian kepada anak, pentingnya mengkonsumsi beraneka ragam makanan.



LEBIH KREATIF
    Untuk meningkatkan selera makan anak, orangtua bisa membuat variasi menu agar anak tidak bosan. Porsi makan untuk anak sebaiknya porsi kecil dan diberikan dalam waktu yang lebih sering dibandingkan dengan orang dewasa. Porsi kecil secara bertahap dapat menimbulkan selera anak.   Demikian juga jika Si Kecil termasuk pemilih, orangtua jangan menyerah menghadapinya. Misalnya, jika anak tidak suka makan daging, tawari ia ikan atau berikan daging dalam jumlah sedikit bersama pizza, kroket, atau makanan lain. Jika Si Buyung selalu menolak sayur, gantilah dengan membuat sayur kukus dengan potongan steak sehingga anak bisa makan dengan menggunakan jarinya. Atau gantilah sayur dengan buah-buahan.

HARUS MENYENANGKAN
    Agar acara makan menyenangkan buat anak, Anda juga bisa mengajaknya makan sambil bermain-main. Atau sesekali jangan memaksanya untuk makan, biarkan ia minta makan atas inisiatifnya sendiri. Banyak anak yang tidak pernah merasa lapar karena ia selalu dipaksa makan oleh orangtuanya, padahal ia belum merasa lapar. Menurut Mayke, seperti halnya orang dewasa, nafsu makan anak juga dipengaruhi suasana hatinya. Jika ia sedang merasa tidak bahagia, tertekan, atau tidak dicintai, bisa jadi selera makannya pun menurun.


Sumber:

Kamis, 03 November 2011

PENYAKIT JANTUNG KORONER

Topik ini yang mengantarkan saya menjadi salah satu mahasiswa yang berkesempatan untuk siaran konsultasi gizi di RRI Bogor Pro I (3 dan 13 Oktober 2011)
PENDAHULUAN
Latar Belakang
Kesehatan merupakan hal dasar yang menunjang proses kehidupan manusia. Berbagai hal dapat mempengaruhi kesehatan, diantaranya adalah pola makan dan gaya hidup modern yang serba cepat. Menurut Utami (2009), sejumlah perilaku dan gaya hidup kurang sehat yang sering dijumpai antara lain mengonsumsi makanan siap saji dengan kadar lemak tinggi, kebiasaan merokok, minuman berakohol, kerja berlebihan, kurang berolahraga, dan stress. Pergeseran gaya hidup ini mempercepat munculnya berbagai penyakit degeneratif, salah satunya adalah penyakit jantung.
Jantung merupakan organ vital yang berperan penting mengalirkan darah keseluruh tubuh dan membawa zat gizi bagi sel-sel organ di seluruh tubuh.. Terdapat berbagai macam penyakit jantung, tetapi penyakit jantung yang umumnya diderita adalah penyakit jantung koroner.  Penyakit jantung koroner disebut sebagai the silent killer deseases. Hal ini dikarenakan gejala serangan jantung juga sering tidak memberikan keluhan-keluhan sebelumnya. Berdasarkan sebuah penelitian, pada saat serangan jantung hanya 49% yang menimbulkan keluhan nyeri dada, 24% tanpa keluhan sebelumnya langsung menyebabkan kematian mendadak (sudden death), dan sisanya terkadang mirip dengan gejala penyakit maag atau lambung.
Organisasi Kesehatan Sedunia (WHO) dan Organisasi Federasi Jantung Sedunia (World Heart Federation) memprediksi penyakit jantung akan menjadi penyebab utama kematian di negara-negara Asia pada tahun 2010. Saat ini, sedikitnya 78% kematian global akibat penyakit jantung terjadi pada kalangan masyarakat miskin dan menengah. Tingginya angka kematian di Indonesia akibat penyakit jantung koroner (PJK) mencapai 26%. Di tahun 2020 diperkirakan penyakit kardiovaskuler menjadi penyebab kematian 25 orang setiap tahunnya (Anonim 2008). Oleh karena itu, penyakit jantung koroner menjadi penyebab kematian dan kecacatan nomer satu di dunia. Oleh karena itu, perlu diberikan informasi mengenai penyakit jantung koroner dan faktor resikonya kepada masyarakat luas melalui konsultasi gizi sebagai salah satu upaya untuk meningkatkan status kesehatan masyarakat.


TINJAUAN PUSTAKA
Definisi Penyakit Jantung Koroner
Sebagaimana anggota tubuh yang lain, jantung juga memerlukan oksigen dan zat makanan sebagai sumber energi agar dapat memompa darah ke seluruh tubuh. Bagian yang berperan mengantarkan zat makanan dan oksigen ini adalah pembuluh darah koroner. Pembuluh koroner merupakan cabang dari pembuluh besar aorta jantung. Jantung memiliki empat cabang besar pembuluh koroner, Pipa pembuluh darah koroner melekat pada dinding jantung. Penyakit jantung koroner terjadi jika pembuluh darah koroner tersumbat. Manifestasi penyakit jantung koroner disebabkan ketidakseimbangan antara kebutuhan oksigen sel otot jantung dengan masukannya. Penyaluran oksigen yang kurang dari arteri koroner akan menyebabkan kerusakan sel otot jantung (Nadesul 2009).
Etiologi
Menurut Utami (2009), penyakit jantung koroner terutama disebabkan oleh proses pembentukan plak aterosklerosis (sumbatan di pembuluh darah koroner). Aterosklerosis merupakan suatu kondisi dimana bahan lemak terkumpul dibawah lapisan sebelah dalam dari dinding arteri. Disamping itu terdapat beberapa faktor yang menyebabkan seseorang terkena penyakit jantung koroner, yaitu:
1.    Faktor yang tidak dapat diubah
a.    Jenis kelamin
Pria lebih berpotensi terkena serangan jantung dibanding dengan wanita.
b.    Usia.
jika usia sudah di atas 40 tahun, semua faktor resiko akan semakin meningkat.
c.    Keturunan
Keturunan atau genetik tidak bisa diabaikan sebagai faktor resiko terkena penyakit jantung koroner. Dengan mengetahui riwayat keluarga yang lebih berisiko terkena jantung koroner akan menolong penderita lebih waspada mengantisipasi terjadinya serangan.
2.    Faktor yang dapat diubah
a.    Kelebihan berat badan (obesitas)
Kegemukan menyebabkan beban jantung semakin berat. Selain itu, timbunan lemak dalam otot jantung dapat menggangu efisiensi gerakan jantung
b.    Hipertensi
Hipertensi dapat merusak bagian dalam pembuluh arteri, sehingga kemungkinan dapat menyebabkan pembekuan darah.
c.    Diabetes mellitus
Diabetes tipe 2 umumnya dihubungkan dengan obesitas dan dapat dicegah dengan menjaga berat badan ideal melalui olahraga dan gizi yang seimbang. Adanya penyakit diabetes juga memicu risiko terjadinya penyempitan pembuluh darah dan arteriosklerosis.
d.    Kolesterol tinggi
Resiko terjadinya arteriosklerosis dan serangan jantung jufa dipengaruhi oleh kadar kolesterol LDL. Jika kolesterol yang tersedia lebih banyak dari yang dibutuhkan, LDL akan beredar dalam aliran darah dan akan berakumulasi di dinging arteri, akibatnya, akan tebentuk semacam plak yang menyebabkan dinding arteri menjadi kaku dan rongga pembuluh darah menyempit.
Patofisiologi
Rangkaian penyebab terjadinya penyakit jantung bersifat multifaktorial. Arteriosklerosis diyakini sebagai rangkaian pertama penyebab penyakit jantung. Aterosklerosis bermula ketika sel darah putih yang disebut monosit, pindah dari aliran darah ke dalam dinding arteri dan diubah menjadi sel-sel yang mengumpulkan bahan-bahan lemak. Monosit yang terisi lemak ini akan terkumpul dan menyebabkan bercak penebalan di lapisan dalam arteri. Setiap daerah penebalan (plak aterosklerotik atau ateroma) akan terisi  dengan sejumlah bahan lemak, terutama kolesterol, sel-sel otot polos dan sel-sel jaringan ikat. Ateroma bisa tersebar di dalam arteri sedang dan arteri besar, tetapi biasanya mereka terbentuk di daerah percabangan. (Anonim 2010). 
Arteri yang terkena aterosklerosis akan kehilangan kelenturannya dan karena ateroma terus tumbuh, maka arteri akan menyempit. Lama-lama ateroma mengumpulkan endapan kalsium, sehingga menjadi rapuh dan mudah pecah. Darah bisa masuk ke dalam ateroma yang pecah, sehingga ateroma menjadi lebih besar dan lebih mempersempit arteri. Ateroma yang pecah juga bisa menumpahkan kandungan lemaknya dan memicu pembentukan bekuan darah (trombus). Selanjutnya bekuan ini akan mempersempit bahkan menyumbat arteri, atau bekuan akan terlepas dan mengalir bersama aliran darah dan menyebabkan sumbatan di tempat lain (emboli) (Anonim 2010). 
Tahapan berikutnya dari rangkaian serangan jantung adalah angina pektoris. Penyebab angina pektoris adalah suplai oksigen yang tidak adekuat ke sel-sel miokardium dibandingkan kebutuhan. Jika beban kerja suatu jaringan meningkat maka kebutuhan oksigen juga meningkat. Pada jantung yang sehat, arteria koroner berdilatasi dan mengalirkan lebih banyak darah dan oksigen ke otot jantung. Namun jika arteria koroner mengalami kekakuan atau menyempit dan tidak dapat berdilatasi sebagai respon peningkatan kebutuhan akan oksigen, maka terjadi iskemi miokardium. Sel-sel miokardium mulai menggunakan glikolisis anaerob untuk memenuhi kebutuhan energi mereka. Cara ini tidak efisien dan menyebabkan terbentuknya asam laktat. Asam laktat menurunkan pH miokardium dan menimbulkan nyeri yang berkaitan dengan angina pektoris. Apabila kebutuhan energi sel-sel jantung berkurang, maka suplai oksigen menjadi adekuat dan sel-sel otot kembali ke proses fosforilasi oksidatif untuk membentuk energi. Proses ini tidak menghasilkan asam laktat. Dengan hilangnya penimbunan asam laktat, maka nyeri angina pektoris mereda. Dengan demikian, angina pektoris merupakan suatu keadaan yang berlangsung singkat (Kusuma & Hanafi, 2003)
Infark miokardium merupakan tahap terakhir dari serangan jantung. Infark miokardium merupakan nekrosis miokard akibat gangguan aliran darah ke otot jantung. Infark miokard biasanya disebabkan oleh trombus arteri koroner; prosesnya mula-mula berawal dari rupturnya plak yang kemudian diikuti oleh pembentukan trombus oleh trombosit. Lokasi dan luasnya infark miokard tergantung pada jenis arteri yang oklusi dan aliran darah kolateral (Kusuma & Hanafi, 2003).
Tanda dan Gejala
Penyakit jantung aterosklerotik
Sesak napas yang makin lama makin bertambah, sekalipun melakukan aktivitas ringan; nyeri dan keram di ekstremitas bawah, terjadi selama atau setelah olah raga. Laboratorium : kadar kolesterol di atas 180 mg/dl pada orang yang berusia 30 tahun atau kurang, atau di atas 200 mg/dl untuk mereka yang berusia lebih dari 30 tahun, dianggap beresiko khusus mengidap penyakit arteri koroner (Jonto 2001).
Angina pektoris
Nyeri dada di daerah sternum, substernal atau dada sebelah kiri dan kadang-kadang menjalar ke lengan kiri, punggung, rahang, leher, atau ke lengan kanan; dapat timbul di tempat lain seperti di daerah epigastrium, leher, rahang, gigi, bahu. Nyeri dada biasanya seperti tertekan benda berat, atau seperti di peras atau terasa panas, kadang-kadang hanya mengeluh perasaan tidak enak di dada. Nyeri timbul pada saat melakukan aktivitas dan mereda bila aktivitas dihentikan. Lamanya nyeri dada biasanya berlangsung 1-5 menit. Gambaran EKG saat istirahat dan bukan pada saat serangan angina sering masih normal. Foto rontgen dada sering menunjukkan bentuk jantung yang normal. Perlu dilakukan exercise test, positif bila EKG menunjukkan depresi segmen ST dan gelombang T dapat terbalik (Jonto 2001).
Infark miokardium
Nyeri dada kiri seperti ditusuk-tusuk atau diiris-iris menjalar ke lengan kiri, lebih intensif dan lama serta tidak sepenuhnya hilang dengan istirahat ataupun pemberian nitrogliserin. Pada EKG terdapat elevasi segmen ST diikuti dengan perubahan sampai inversi gelombang T; kemudian muncul peningkatan gelombang Q minimal di 2 sadapan. Peningkatan kadar enzim atau isoenzim merupakan indikator spesifik infark miokard akut yaitu kreatinin fosfoskinase (CPK/CK), SGOT, LDH, alfa hidroksi butirat dehidrogenase, dan isoenzim CK-MB. Yang paling awal meningkat adalah CPK tetapi paling cepat turun (Jonto 2001).
 Pengobatan
Penatalaksanaan jantung koroner dibagi menjadi dua jenis yaitu umum dan mengatasi iskemia. Penatalaksanaan umum meliputi edukasi pada pasien seperti penjelasan mengenai penyakit, aktivitas yang harus dihindari, pengendalian faktor risiko, pencegahan sekunder (contoh: memberi penghambat aterosklerosis), pemberian oksigen bila perlu. Penatalaksanaan iskemia dengan memberi nitrat, berbagai jenis penyekat beta, antagonis kalsium, trombolitik, dan operasi (Rakhman 2003).
Jenis operasi yang biasa dilakukan sebagai penanganan penyakit jantung koroner adalah operasi balonisasi (coronary angioplasty) dan operasi bypass jantung (coronary artery bypass surgery). Pada dasarnya coronary angioplasty adalah teknik dimana suatu balon yang tipis dan panjang dimasukkan kedalam pembuluh darah yang menyempit, kemudian balon itu ditiup menggelembung dengan tekanan tinggi sehingga melebarkan pembuluh darah. Kekurangan teknik angioplasty adalah adanya kemungkinan terjadinya penyempitan arteri kembali setelah kurun waktu tertentu (Anonim 2008).
Teknologi terus berkembang, hingga ditemukan stent. Stent merupakan suatu jaringan kawat yang sangat halus. Stent dimasukan ke dalam pembuluh dan digelembungkan bersama dengan balon. Kemudian balon dikempiskan dan dikeluarkan. Sehingga stent tertinggal dan akan melebarkan penyempitan pembuluh. Teknik ini dapat membantu mencegah penyempitan pembuluh darah (Anonim 2008).
Coronary artery bypass surgery adalah teknik yang menggunakan pembuluh darah dari bagian tubuh yang lain untuk memintas (melakukan bypass) arteri yang menghalangi pemasokan darah ke jantung. Vena kaki atau arteri mamari (payudara) internal bisa digunakan untuk operasi bypass. Operasi ini membantu memulihkan aliran darah yang normal ke otot jantung yang tersumbat (Anonim 2011).
Pencegahan
Menurut Utami (2009), upaya pencegahan untuk menghindari penyakit jantung koroner dimulai dengan memperbaiki gaya hidup dan mengendalikan faktor risiko sehingga mengurangi peluang terkena penyakit tersebut. Penyebab utama dari penyakit jantung koroner adalah arteriosklerosis. Pencegahan terhadap terjadinya arteriosklerosis dengan melakukan beberapa cara, yaitu:
1.    Mengendalikan tekanan darah dan kadar gula darah normal.
2.    Berhenti merokok dan menghisap asap rokok
3.    Olahraga secara teratur.
4.    Menjaga berat badan ideal
5.    Menurunkan kadar kolesterol LDL dan meningkatkan kadar kolesterol HDL.
6.    Mengurangi konsumsi makanan yang berlemak dan berkalori tinggi,
7.    Mengkonsumsi makanan atau minuman yang mengandung antioksidan
8.    Mengkonsumsi makanan yang mengandung asam folat dan vitamin B untuk menurunkan kadar homosistein dalam darah.
9.    Mengurangi stres
10.  Mengurangi minuman beralkohol
Pengaturan Diet
Menurut Almatsier (2010), tujuan dari diet penyakit jantung adalah memberikan makanan secukupnya tanpa memberatkan kerja jantung, menurunkan berat badan bila terlalu gemuk dan mencegah atau menghilangkan penimbunan garam atau air. Berikut daftar bahan makanan yang dianjurkan dan dibatasi dalam penyusunan diet penyakit jantung.
Tabel 1 Daftar bahan makanan yang dianjurkan dan dibatasi bagi penderita jantung Koroner
Bahan makanan
Dianjurkan
Dibatasi
Sumber karbohidrat
Beras, mie, kentang, tepung beras, tepung terigu, gula, madu
Makanan yang mengandung gas/ alkohol: ubi, singkong, tape
Sumber protein hewani
Daging sapi, ayam dengan lemak rendah, ikan, telur, susu rendah lemak
Daging sapi dan ayam yang berlemak, sosis, ham, hati, babat, otak, kerang-kerangan
Sumber protein nabati
kacang kedelai, tahu, tempe
Kacang tanah
Sayuran
Tidak mengandung gas: bayam, kangkung, buncis, kacang panjang, wortel, tomat
Mengandung gas: kol, sawi, lobak
Buah-buahan
Semua buah segar
Buah mengandung alkohol: durian dan nangka
Lemak
Minyak jagung, minyak kedelai, margarine, mentega dalam jumlah sedikit
Minyak kelapa, minyak kelapa sawit, santan kental
Minuman
The encer, coklat, sirup
The/ kopi kental, soda
Bumbu
Semua bumbu dalam jumlah terbatas
Cabe, merica, dan bumbu lain yang beraroma tajam

Memperbanyak mengkonsumsi makanan sehat akan membantu meredam resiko penyakit jantung. Menurut Utami (2009), makanan berikut dianjurkan untuk dikonsumsi penderita jantung koroner.
1.    Serat larut
Berfungsi menurunkan kadar kolesterol karena dapat mengangkut asam empedu. Selain itu serat larut juga dapat mengatur kadar gula darah dan menurunkan tekanan darah. Contoh makanan yang mengandung serat larut adalah havermut, roti gandum, buah-buahan yang dimakan bersama kulitnya, polong-polongan dan kacang-kacangan.
2.    Omega-3
Omega 3 mampu menurunkan kadar trigliserida, sehingga dapat memperkecil pertumbuhan aterosklerosis. Selain itu omega-3 dapat menurunkan resiko aritmia (detak jantung tidak normal) yang dapat menyebabkan serangan jantung mendadak. Jenis ikan terbaik adalah ikan laut dalam, seperti salmon dan tuna.
3.    Lemak tak jenuh
Lemak tak jenuh dapat menurukan risiko penyakit jantung dengan cara menyusutkan kadar kolesterol darah, Lemak tak jenuh tunggal dapat diperoleh dari minyak zaitun dan wijen. Lemak tak jenuh ganga diperoleh dari minyak bungan matahari dan jagung.
4.    Niacin
Niasin (vitamin B3) banyak terdapat pada kacang hijau dan kedelai. Niacin dapat menurunkan produksi LDL dan merangsang pembentukan prostaglandin. Prostaglandin merupakan suatu hormon yang membantu mencegah pengumpulan keeping darah dalam proses arteriosklerosis.
5.    Vitamin C
Berperan penting memperbesar laju pembuangan kolesterol keluar tubuh sebagai asam empedu, meningkatkan HDL dan mensintesis kolagen. Kekurangan vitamin ini dapat menyebabkan kerusakan sel dinding pembuluh darah arteri serta melemahnya struktur pembuluh darah dan otot jantung. Vitamin C dosis tinggi banyak ditemukan pada jeruk, lemon, stroberi, papaya, dan sayuran hijau.


DAFTAR PUSTAKA
Almatsier S.2010. Penuntun Diet. Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama
______.2008. Penyakit Jantung Koroner. http://www.totalkesehatananda.com/ html (24 September 2011)
______.2010. Penyebab Aterosklerosis (Atherosclerosis). http://www.spesialis. info/?penyebab-aterosklerosis-(atherosclerosis),703 (17 September 2011)

______.2011.  Pembedahan Coronary Arteri Bypass Grafting (CABG). http://www.singhealth.com.sg/PatientCare/Overseas-Referral/bh /Procedures /Pages/CardiothoracicSurgeryPackages.aspx. (24 September 2011)

Nadesul H.2009. Resep Mudah Tetap Sehat. Jakarta: PT Kompas Media Nusantara
 Jonto S. 2001. Diagnosis Penyakit Jantung. Jakarta : Penerbit Widya Medika.
Kusmana, Hanafi. 2003. Patofisiologi Penyakit Jantung Koroner. Jakarta : Balai Penerbit FKUI.
Rakhman O. 2003. Anamnesis dan Pemeriksaan Fisik pada Penyakit Jantung. Jakarta : Balai Penerbit FKUI.
Utami P.2009. Solusi Sehat Mengatasi Jantung Koroner. Jakarta: PT AgroMedia Pustaka